Senin, 18 Oktober 2010

Hubungan Selenium dengan Kualitas Semen

      Hubungan antara motilitas dengan Selenium dapat dijelaskan oleh sifat Selenium dalam semen yakni bersifat potensial suatu antioksidan terhadap sejumlah senyawa oksigen reaktif (ROS = Reactive Oxygen Species). ROS ini menimbulkan reaksi oksidatif pada membran spermatozoa sehingga motilitas spermatozoa menjadi lebih buruk. Bila kadar Selenium semen lebih rendah, kapasitas terhadap ROS berkurang, motilitas yang semula baik (terutama motilitas (a+b) ) akan menjadi jelek. Specific sperm nuclei GPX (SnGPX) dan menunjukkan kerja sebagai mana protamine thiol peroxidase untuk cross-linking disulphide dan dibutuhkan untuk maturasi sperma dan fertilitas pria (Bene dan Kyriakopoulos, 2001 dalam Reilly, 2006).
      Konsentrasi spermatozoa ditentukan oleh aktivitas / kegiatan tubular testis yaitu spermatogenesis. Spermatogenesis sendiri dipengaruhi androgen yang diproduksi dan disekresi oleh sel Leydig testis (Sono et al, 1997).
      Normal tidaknya bentuk spermatozoa sangat ditentukan oleh proses spermatogenesis dalam testis, defisiensi Selenium pada spermatozoa adalah distorsi pada arsitektur mid piece, dimana mitokondria normal diselubungi oleh matrik keratin yang disebut kapsul mitokondria. Bahan ini mengandung bahan terbanyak Selenium spermatozoa, dikomposisi oleh protein yang cross linked oksidatif. Peran Selenium pada infertilitas pria terutama pada peranan selenoprotein P dan phospholipid hydroperoxidase gluthatione peroxidase (PHGSH-Px) dalam spermatogenesis. Selenoprotein P ditransformasi pada tingkat akhir spermatogenesis dari selenoperoxidase aktif ke dalam struktur protein yang akan menjadi bagian mitokondria sheath spermatozoa. Transformasi ini paralel dengan hilangnya glutathione. Mekanismenya, proses ini menginaktivasi GSH-Px dari reaksi bentuk selenenik dengan thiol GSH-Px itu sendiri dan protein lain. Komponen terbanyak Selenoprotein PHGSH-Px, PHGSH-Px disintesis di round spermatid dibawah kontrol tak langsung testosteron.


1 komentar: