Stimulasi dengan sentuhan manual pada organ intim wanita dapat membangkitkan gairah seksual wanita. Stimulasi langsung pada klitoris kadang-kadang menimbulkan ketidaknyamanan pada beberapa wanita. Sentuhan diatas dan sekitar klitoris lebih disukai,termasuk dengan memasukkan jari ke liang vagina pasangan.
Memasukkan jari ke liang vagina selain dapat menambah bangkitan seksual isteri, dapat juga meningkatkan sensasi dalam hubungan intim karena di bagian depan dinding vagina terdapat Grafenberg spot (G-spot). Dengan vagina yang terlubrikasi dengan baik, penetrasi penis ke vagina menjadi lebih mudah serta dapat mengurangi ketidaknyamanan akibat gesekan yang terjadi.
Memasukkan jari ke liang vagina masih merupakan hubungan yang sehat. Yang terpenting adalah menjaga kebersihan jari-jari dan kuku, selain itu bila ada stimulasi anal sebelumnya agar jari-jari tidak menyentuh bagian organ intim pasangan baik itu vulva maupun vagina agar kuman / bakteri yang ada di dubur tidak masuk ke vagina yang dapat menyebabkan infeksi di organ intim.
Sabtu, 06 Agustus 2011
Stimulasi Manual dengan Jari
Ereksi
Jumat, 01 Juli 2011
Pemeriksaan Analisis Semen Dasar & Lanjutan
Analisis semen pada kasus infertilitas pria tidak hanya untuk diagnosis tetapi juga berguna bagi terapi dan prognosis.
Analisis semen memberikan informasi :
1. Produksi sperma oleh testis
2. Sumbatan dan fungsi saluran reproduksi pria
3. Aktivitas kelenjar aksesori
4. Kapabilitas Ejakulasi
Sehingga pemeriksaan semen dilakukan untuk :
- Diagnosis kemandulan pria
- Diagnosis infertilitas pria
- Prognosis kesuburan pria
- Mengidentifikasi penanganan yang akan dilakukan :
a. Medikamentosa
b. Pembedahan
c. Teknologi reproduksi berbantu (IUI,IVF,ICSI)
- Keperluan forensik
- Efektivitas vasektomi (KB Pria mantap)
Senin, 06 Juni 2011
Senin, 02 Mei 2011
Kandungan Kimiawi Rokok
Komposisi tembakau sebelum dibakar sangat penting untuk diketahui karena mempengaruhi komposisi asap rokok yang dihisap selain itu juga untuk mengidentifikasi sumber tembakau.
Asap rokok banyak mengandung campuran bahan kimia beracun diantaranya karbon monoksida, tar dan nikotin (Amir et al, 2009). Nikotin merupakan satu dari ribuan zat kimia yang terdapat dalam rokok, nikotin adalah zat kimia yang mirip asetilkolin yang memang terdapat dalam tubuh dan hanya memerlukan 8 detik untuk mencapai otak yang selanjutnya otak akan mengeluarkan dopamin. Dopamin akan memberikan sensasi “kenikmatan”.
Di dalam aliran darah sensasi “kenikmatan” dapat sampai 72 jam yang selanjutnya akan terjadi sindrom putus obat, sehingga akan terjadi kecanduan dan ketergantungan yang tidak hanya fisik, tetapi juga mental. Usaha untuk berhenti merokok menjadi sulit bila kebiasaan merokok telah dimulai ketika pada usia muda. Kandungan asap rokok lain yang seperti asam asetat merupakan cuka makan, aceton dipakai sebagai penghapus kutek, amonia dipakai pada zat pembersih, arsen merupakan racun yang biasa dipakai sebagai racun tikus, butane merupakan gas korek api, cadmium dipakai sebagai bahan dalam baterai, DDT merupakan insektisida yang di larang oleh pemerintah Amerika pada tahun 1970-an karena bersifat teratogenik, etanol merupakan alkohol, formaldelhid merupakan zat pengawet jaringan tubuh yang diketahui sebagai zat karsinogen, hidrogen sianida sebagai racun pada ruang gas, methanol sebagai bahan bakar roket, naphthalene merupakan pengusir ngegat, nitrobenzene biasa dipakai sebagai adiktif bahan bakar, toluene merupakan solven di bidang industri, vynil chroride merupakan bahan pada pipa plastik (Fawles, 2005).
Metode standar untuk pengambilan asap rokok telah dikembangkan oleh Federal Trade Commission (FTC). Metode FTC menekankan pada pola merokok umum yang terdiri dari 35 cm3 “hembusan / kepulan asap rokok” selama 2 detik setiap kali per menit. Mainstream smoke (MS) adalah asap yang langsung dihisap oleh perokok sedangkan sidestream smoke (SS) atau secondhand smoke adalah asap yang dikeluarkan ke lingkungan dari pembakaran rokok (Jaffe et al, 1999)
Menurut Environmental Protection Agency (EPA) tahun 1992 kandungan fase gas dan partikulat yang terkandung di dalam asap rokok lebih dari 4.000 jenis bahan kimia (Yu et al, 2006).
Senin, 24 Januari 2011
Hukum Kedokteran
Hukum kedokteran merupakan bagian dari hukum di bidang Kesehatan, secara definisi menurut W.B. Van Der Mijn (1986), dapat dijelaskan sebagai berikut :
Hukum medik / hukum kedokteran (“medical law”) is the study of the juridical relation to which the doctor is a party, is a part of health law, sedangkan hukum kesehatan (“health law”) is the body of rules that relates directly to the care for health, as to the application of general civil, criminal, and administrative law. Jadi, hukum kedokteran di batasi pada hukum yang mengatur profesi dokter.
Permasalahan yang biasanya dilontarkan oleh kalangan profesi medis, yaitu mengapa hukum mencampuri masalah etik yang sudah ada dan berlaku di kalangan profesi medis ?, sejarah perkembangan peradaban manusia ini diawali dengan lafal sumpah Hipocrates yang secara rasional melatarbelakangi kegiatan professional itu dengan tujuan kuratif, rehabilitatif, preventif dan promotif.
Perlu dibedakan antara etik profesi dengan hukum, diantara keduanya terdapat persamaan dan juga perbedaan. Perbedaan terutama etik dikontrol dan penilaiannya dilakukan oleh penyandang profesi itu sendiri berdasarkan kesepakatan yang tidak tertulis, hal ini tidak cukup kuat bila kita akan menyelenggarakan pembangunan di bidang kesehatan. Hubungan pasien dan dokter yang semula bersifat “vertikal paternalistik” berangsur-angsur bergerak ke arah hubungan yang bersifat horizontal konstraktual, dimana dokter dan pasien berkedudukan sama sebagai subjek hukum. Ini berarti masing-masing pihak dibebani dengan berbagai hak dan kewajiban.
Jumat, 07 Januari 2011
Minggu, 19 Desember 2010
7 Ways to Boost your Fertility
If you’re like most couples who are trying to conceive, you want to conceive sooner rather than later.
Having intercourse as close as possible to ovulation can definitely help. There are other ways men and women can boost their fertility. These simple measures can increase the chances that next month will be the month you’ll say: “We’re pregnant!”
Read on for some simple suggestions:
1. Manage your weight: Being under or overweight significantly affects fertility. Women who are underweight—with a body mass index (BMI) lower than 19 Kg/M2—take four times as long to get pregnant as women in the normal range (19 to 24 Kg/M2). On the other hand, women who are overweight may have insulin resistance, meaning that too much insulin circulates in the body, disrupting menstruation. Estrogen production from fat cells can also affect the ovaries and prevent eggs from being released every month—a condition called anovulation. If you’re too thin, gaining as little as five pounds can sometimes be enough to jumpstart ovulation and menstruation. If you’re overweight, losing just 5 to 10 percent of your current body weight is often enough to do the same. You can calculate your BMI by going to this website:
www.nhlbisupport.com/bmi/
2. Manage your stress: In men, stress has been shown to affect fertility by both lowering sperm volume and raising the percentage of abnormal sperm. Women who are chronically stressed can produce less hormones that will prevent ovulation. Learn how to manage stress with exercise and meditation.
3. Stop smoking: Smoking has a negative effect on fertility for both men and women. Smoking is toxic to the reproductive system. Women who smoke go through menopause years before women who do not smoke. Smoking is also strongly associated with an increased risk of miscarriage, and women who smoke are more prone to ectopic pregnancies. Smoking matters for men, too. Men who smoke have lower sperm quality. If your partner smokes, he not only puts his sperm at risk, but he leaves you vulnerable to many of the same problems that plague women smokers. Stop smoking immediately and talk to your doctor about smoking cessation programs and medications that may be right for you.
4. Decrease alcohol and caffeine intake: Caffeine’s role in fertility is one of those issues that surfaces every couple of years. The research is ongoing, and the verdict is still out. But as of now, most experts agree that as long as you limit your intake to less than 300 milligrams a day (the amount contained in two small cups of coffee plus a soda), your fertility shouldn’t be affected. Certainly excessive alcohol consumption has been linked with anovulation (no ovulation), amenorrhea (no periods), and abnormalities with the endometrial lining. Alcohol can also alter estrogen and progesterone levels. An occasional glass of wine is unlikely to affect your fertility, but many experts think it’s best to be on the safe side and forego alcohol as soon as you start trying to conceive
5. Work out Wisely: Now is not the time to go for the burn. Working out too much means you might not be able to produce good eggs. Exercise in moderation.
6. Take Supplements: Begin (or continue) taking either a prenatal vitamin containing folic acid. During the earliest weeks of pregnancy, before you may even realize you’re pregnant, the embryo’s neural tubes (the earliest version of the brain and spinal column) develop. Taking a supplement that contains folic acid will reduce the chance of defects. You and your partner can also consider taking a fertility supplement: www.coastscience.com has more information on the different supplements available. You can also get them from Dr. Aimee’s office.
7. Eat Right: You need to nourish yourself before you can begin nourishing a growing baby. Begin by choosing foods rich in whole grains. Choose a rainbow’s worth of colorful fruits and veggies every day. Choose foods high in omega-3s (from fish oils, canola oil, olive oil, and flaxseed). Eating salmon one or two times a week, or eggs fortified with DHA (a fatty acid found in fish oil that’s an important component in brain tissue) is a great way to get your omega-3s.
Hope this helps!
Sumber : http://draimee.org/

