Rabu, 09 November 2011
Kamis, 25 November 2010
Kandungan Selenium di dalam Jaringan Tubuh
Kandungan Selenium di jaringan tubuh merupakan pencerminan dari makanan yang di konsumsi. Absorpsi Selenium terutama terjadi di bagian ujung bawah usus halus. Semua bentuk Selenium baik organik maupun anorganik dapat diserap. Penyerapan senyawa organik seperti selenomethionine lebih efisien di serap daripada bentuk anorganik seperti selenite yaitu sekitar 90 % berbanding 60 %. Selenomethionine adalah komponen senyawa Selenium dalam sereal, kacang kedelai dan ragi. Sumber terkaya akan Selenium adalah kacang Brazil. Bawang putih, bawang merah, brokoli merupakan sumber Selenium yang mengandung senyawa Se-methylselenocysteine (Best, 2008).
Selenium di simpan dalam sel darah merah, hati, ginjal, otot, plasma, limpa, jantung, kuku dan enamel gigi. Menurut laporan WHO / FAO tahun 2002 kandungan Selenium di hati sekitar 30 %, 15 % di ginjal, 30 % di otot, dan 10 % di plasma. Ekskresi Selenium yang terserap dikeluarkan melalui urine, beberapa hilang melalui keringat dan juga dalam rambut, dan sedikit dikeluarkan melalui kandung empedu, pankreas, dan sekresi usus dalam feces (Reilly, 2006).
Plasma dan serum mengandung sekitar 75 % Selenium darah. Rentang kadar serum Selenium pada orang dewasa sehat adalah 0,046 - 0,143 µg/ml sebagaimana yang telah diusulkan oleh International Atomic Energy Agency (Reilly, 2006).
Selenium yang terserap disirkulasi dalam darah terutama berikatan dengan protein, diikuti dengan initial reduction ke dalam eritrosit menjadi selenide. Proses ini juga dipakai untuk mereduksi glutathione dan terlibat pada enzyme glutathione reductase. Pada tubuh manusia, hampir semua ikatan protein Selenium di darah dilaporkan dalam fraksi very low-density-β-lipoprotein (Reilly, 2006).
Jumlah total Selenium yang tersimpan dalam tubuh manusia dewasa berkisar pada rentang 2 sampai lebih dari 20 mg. Total kandungan Selenium pada orang Amerika dewasa berkisar sekitar 15 mg dengan rentang 13 sampai 20,3 mg (Reilly, 2006).
Semua atribut fungsi biologi Selenium dimediasi oleh selenoprotein. Selenium masuk ke dalam struktur utama protein sebagai asam amino selenocystein (sec). Lebih dari 40 selenoprotein berbeda telah diidentifikasi di mamalia dengan sodium dodecyl sulphate-polyacrylamide gel electrophoresis (SDS-PAGE) dari jaringan yang telah dilabel Se.
Komposisi selenoprotein sama dengan GPX4 kecuali pada sekuen N-terminal, yang telah ditemukan oleh pelabelan Se dan pemisahan oleh SDS-PAGE. Hal ini hanya terjadi pada testis dan spermatozoa tikus setelah masa puber dan berlokasi di nukleus spermatid akhir. Diidentifikasi sebagai specific sperm nuclei GPX (SnGPX) dan menunjukkan kerja sebagai mana protamine thiol peroxidase untuk cross-linking disulphide dan dibutuhkan untuk maturasi spermatozoa dan fertilitas pria (Bene dan Kyriakopoulos, 2001 dalam Reilly, 2006).
Pada manusia Selenium dalam bentuk selenocysteine berfungsi sebagai pusat katalitik seperti glutathione peroxidase antioxidant enzymes (Hawkes, 2001). Selenocysteine sebagai asam amino ke 21 memiliki struktur yang mirip dengan 2 asam amino lainnya yaitu serine dan cystein.
Dari sintesis selenoprotein yang ditunjukkan oleh Eschericia coli terlibat 4 buah gen. SelC, sec-charged tRNA (Sec-tRNAsec) yang mengandung triplet UCA, antikodon untuk UGA. SelA, enzym untuk sintesa Sec. SelD, enzim lainnya, selenophosphate synthetase (kedua enzim adalah penting untuk formasi Sec-tRNAsec dari seryl-tRNAsec) dan selB, sebuah faktor elongasi yang mengenali secara spesifik Sec-tRNAsec.
Langkah pertama aminoakrilasi asam amino serine dengan enzym serine synthetase untuk menghasilkan Seryl-tRNAsec. Dengan bantuan kerja pyridoxal phosphate dependent enzyme sec synthase yang mengubah seryl-tRNAsec menjadi Sec-tRNAsec melalui senyawa intermediat aminoacrylyl-tRNAsec. Intermediat ini bertindak sebagai acceptor untuk aktivasi selenium, menghasilkan selenocysteyl-tRNAsec. Donor pada reaksi ini adalah monoselenophosphate yang disintesis dari Selenium dalam bentuk selenide.
Selenoprotein P (Se-P) adalah sebuah glycoprotein 43 KDa yang mengandung 10 – 12 Sec residual per molekul. Hanya Selenoenzim yang sejauh ini memiliki kandungan lebih dari satu sec. Molekul juga kaya akan residu histidine dan cysteine yang berikatan kuat dengan metal. Untuk mengerti bagaimana Selenium disisipkan ke dalam protein fungsional setidaknya melibatkan implikasi genetik. Satu diantaranya, Selenium disisipkan ke protein posttranslational sebagai dissociable cofactor, yang lainnya Selenium disisipkan cotranslational ke dalam protein sebagai asam amino sec.
Selasa, 07 September 2010
Ejakulat
Spermatozoa diproduksi dalam testis, ketika bercampur dengan cairan kelenjar sex aksesori, menjadi semen (biasanya dikenal juga sebagai ejakulat).
Mekanisme neurofisik yang menginduksi emisi dan ekspulsi adalah orgasme. Orgasme pada manusia tergantung pada mekanisme feedback antara stimulasi langsung penis dan eksitasi sistem saraf pusat. Sekali orgasme terjadi, emisi dan ekspulsi seharusnya secara otomatis terjadi.
Semen manusia mempunyai volume yang bervariasi antara satu individu dengan individual lain tetapi berukuran antara 2 sampai 6 ml. Dapat dipakai untuk mengetahui perubahan yang terjadi di cairan seminal dalam menentukan letak lesi penyebab infertilitas. Sangat penting untuk mengetahui asal ejakulat dan proporsi masing – masing komponen.
Rabu, 27 Januari 2010
Disfungsi testis karena penyakit endokrin
Penyakit Gondok mempengaruhi fungsi reproduksi pria dengan terbanyak mengubah kadar sirkulasi SHBG. Hormon tiroid menstimulasi sintesis SHBG hepar jadi hipertiroid meningkatkan kadar sirkulasi SHBG dan hipotiroid menyebabkan kadar SHBG rendah dan perubahan tersebut dapat dinormalkan oleh kadar hormon tiroid. Peningkatan SHBG menurunkan klearence testosteron menyebabkan peningkatan kadar testosteron total, estradiol dan gonadotropin. Secara keseluruhan kerja androgen di jaringan masih belum jelas. Gambaran klinis seperti ginekomastia dan penurunan fungsi seksual pada beberapa kasus. Spermatogenesis ditekan pada tirotoksikosis dan hipotiroid jangka panjang pada onset prepubertas tetapi sedikit efek setelah pubertas.
Hiperkortisolisme dari berbagai penyebab dapat menginhibisi fungsi testis pada berbagai tingkat aksis HPT diikuti penurunan kadar sirkulasi testosteron dan gonadotropin yang kembali semula setelah setelah terputusnya paparan glukokortikoid yang berlebihan. Derajat defisiensi androgen berkontribusi pada keadaan katabolik dan gejala disfungsi seksual dan kelemahan selama hiperkortisolism belum jelas. Mekanisme yang terlibat pada berbagai tingkat aksis HPT termasuk inhibisi sekresi GnRH hipotalamus, GnRH menstimulasi hipofise mensekresi LH dan LH menstimulasi sel Leydig biosintesis testosteron.
Efek diabetes pada fungsi reproduksi pria terutama karena neuropati dan komplikasi diabetes vaskuler menyebabkan disfungsi ereksi dan / atau ejakulasi. Efek langsung pada fungsi testis masih belum banyak eviden.
Kamis, 19 Maret 2009
Infertilitas Pria
Infertilitas Pria
Oleh : dr. Anton Darsono Wongso, MM
(http://arsip.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Opini&id=136189)
INFERTILITAS selama ini hanya ditujukan dan menjadi kambing hitam selalu wanita, hal ini tidak terlepas dari ego kaum pria. Dengan berkembangnya pengetahuan dan teknologi dibidang reproduksi, diketahui bahwa kontribusi wanita terhadap infertilitas sekitar 40 %, pria 35 %, dan pria-wanita secara bersama-sama 25 %.
Infertilitas adalah suatu keadaan pasangan yang sudah menikah satu tahun atau lebih dan telah melakukan hubungan seksual secara teratur tanpa memakai kontrasepsi, tetapi tidak memperoleh keturunan.
Infertilitas meliputi dua pihak yaitu pria dan wanita. Gangguan pada satu pihak atau pada kedua pihak dapat mengganggu kesuburan pasangan suami-istri. Jadi gangguan fertilitas pada suami akan dapat menyebabkan infertilitas pada pasangan suami-istri tersebut, begitu pula sebaliknya.
Infertilitas pria adalah keadaan di mana tidak terjadi kehamilan setidaknya 12 bulan setelah senggama tanpa kontrasepsi. Infertilitas pria terbagi atas dua, yaitu : primer dan sekunder. Infertilitas pria primer terjadi bila seorang pria tidak pernah menghamili wanita, sedangkan yang sekunder merupakan keadaan di mana seorang pria pernah menghamili wanita tanpa melihat apakah merupakan pasangannya saat ini atau bukan.

Penyebab infertilitas pria:
>> Cogenital & aquired (uni-/bilateral cogenital absence of sperm ducts, Varicocel any grade : uni-/bilateral, Partial/ total occlution of sperm ducts : uni-/bilateral),
>> Iatrogenic and habits (cigarets, alcohol, narcotics, ecstacy, pesticides, cooks and so on),
>> Infection & chronis diseases (mumps, typoid fever, german measles, small pox, tuberculose, etc),
>> vasectomy,
>> sexual dysfunction/ sexual deviation / sexual orientation.

Pemeriksaan infertilitas pria dilakukan oleh dokter spesialis Andrologi, meliputi wawancara, pemeriksaan fisik secara menyeluruh, analisis sperma, pemeriksaan lain dalam laboratorium serta pemeriksaan teknis tambahan.
Dibidang Andrologi, analisis sperma memegang peranan penting. Untuk standarisasi, lembaga kesehatan dunia WHO telah menerbitkan buku penuntun untuk pemeriksaan dan diagnosis baku pasangan infertil.
Pengobatan infertilitas pria juga tergantung penyebabnya.
Obat (seperti HMG/HCG, FSH, Androgen, anti estrogen, pentoksifilin dan anti oksidan), pembedahan, maupun kombinasi keduanya, sampai ART.

Bila terapi rasional tidak dapat dilakukan dan terapi empiris tidak menunjukkan hasil maka perlu dilakukan teknologi reproduksi berbantu (ART = Assisted Reproductive Technology), apakah melalui pembuahan di dalam tubuh yaitu intra uterine insemination (IUI) atau diluar tubuh yang lebih dikenal dengan “bayi tabung” bisa berupa konvensional in vitro fertilization (cIVF) atau intra cytoplasmic sperm injection (ICSI).
Keistimewaan ICSI dibandingkan teknologi reproduksi berbantu lainnya adalah bahwa ICSI hanya memerlukan satu buah spermatozoon, baik yang di ambil pada saat tindakan maupun yang telah dibekukan.
Pada ICSI semua langkah seperti kapasitasi, reaksi akrosom, penetrasi sperma melalui semua lingkungan oosit di hindari. Pada prosedur ini, seekor sperma disuntikkan melalui suatu mikro pipet langsung ke dalam sitoplasma oosit. Pada ICSI kualitas pergerakan sperma dan keadaan akrosom tidak mempengaruhi angka fertilisasi.
Therapy Probability of Pregnancy per cycle (P/C)
Empirical therapy 0.013
Causal therapy 0.041
IUI 0.111
IVF 0.319
ICSI 0.416
Bahkan dalam perkembangannya bila spermatozoa tidak ditemukan dalam ejakulat dapat diambil spermatozoa dari epididymis dengan cara microsurgical sperm aspiration (MESA), percutaneous sperm aspiration (PESA) maupun dari testis melalui teknik testicular sperm extraction (TESE) setelah itu baru dilakukan ICSI.
